Jangan Menjadi Penulis Jika Masih Takut 3 Hal Ini

 


 Jangan Menjadi Penulis Jika Masih Takut 3 Hal Ini

Penulis: Arief Santoso

Menjadi penulis saat ini adalah cita-cita yang sangat diimpikan terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan menangkap imajinasi, research and give a chances and ideas for them story atau sekadar mampu menemukan hal yang baru dalam dunia kepenulisan. Tetapi bagi siapapun yang ingin menjadi penulis tentu memerlukan studi yang berkelanjutan sehingga daya kepenulisannya menjadi optimal.

Selama perjalanan menulis saya banyak menemukan true story yang tentunya menarik untuk dibahas, serta berbagai permasalahan yang sering timbul di masyarakat sastra dan kepenulisan, dari missunderstanding about literacy, terus ada lagi yang belum paham soal menulis dan sastra, apalagi sampai menanyakan kalau menulis itu bagusnya bagaimana? 

Ya, menulis itu poinnya subjektif, kita menentukan bagus atau tidaknya tulisan kita, lalu ada opsi untuk dipendam atau dikeluarkan ke public, dan tunggu hasil saja. Pegangan selanjutnya adalah jangan baper, karena hanya merusak hasil karya yang menurutmu bagus.

Kemudian, ada lagi yang sampai frustasi dan tidak ingin menulis kembali. Nah lho, kenapa begitu? Setelah saya tanyakan dan diskusi bersama, banyak sekali penulis muda yang terlalu meninggikan harapan tetapi tidak mau menerima risiko tersakiti oleh kritik dan saran padahal sudah jelas sastra itu pasti ada kritik  dan saran untuk keberhasilan selanjutnya bagi penulis. Terus ada lagi yang termakan obsesi untuk mendapatkan apresiasi, baik tepuk tangan, likes and subscribes atau dengan promosi yang mengandung paksaan. 

Nah lho, hal ini mestinya dimaklumi tetapi kalau tak dapat apresiasi dan lainnya, bisa apa penulis ini? Perlunya pendidikan rendah hati ketika seorang penulis muda mampu menangkal beberapa pikiran negatif yang menjadi kelemahan untuk akhirnya tidak mau lagi mengenal kepenulisan yang notabene adalah passionnya sejak lahir. Sayang banget, kan?

Beberapa faktor membuktikan bahwa menjadi penulis memang mempunyai peluang mendapat cuan dan ketenaran yang sangat besar, sehingga mengapa kepenulisan ini menjadi jalan utama di era kini, padahal penulis dahulu pun masih selalu eksis meskipun kata banyak orang kegiatan menulis itu membuang-buang waktu, dibilang tidak ada kerjaan atau hanya menambah angka pengangguran. 

Eits! Tapi tunggu dulu, ada lho yang menjadi penulis sampai menorehkan berbagai penghargaan dan karyanya terpampang dimana-mana. (Pastinya bukan penulis sebiji taoge atau secuil Bodrex yang dijual di warung pinggiran kota).

Saya pun yang terbiasa mengisi seminar dan webinar pun belum berani mengklaim bahwa saya penulis, walaupun tulisan dan karya saya sudah banyak yang terbit, tetapi saya belum sesempurna dan memenuhi klasifikasi untuk disebut penulis, karena saya mengakui pengetahuan dan kemampuan saya dalam analisa dan menulis baru seumur padi yang ditanam minggu lalu. 

Namun, berdasarkan riset yang saya lakukan ketika berada di lingkaran komunitas menulis, saya meresahkan banyak sekali orang yang mengklaim dirinya penulis tapi takut karyanya terpublikasi. Pernah sampai konsultasi sama saya yang ilmunya cethek sekali untuk dianggap sebagai konsultan penulisan umum, tapi untuk sharing dan ngopi-ngopi, apa boleh buat, sikat saja!

Ada sebagian keresahan yang saya temukan ketika ngobrol dengan anak-anak penulis di komunitas baik secara online maupun langsung depan mata dengan dua teko teh hangat, dan biar lebih enak saya perincikan saja keresahan ini untuk dijadikan refleksi dan introspeksi diri para penulis muda yang dianggap lemah oleh para bangsawan yang nongkrongnya di cafĂ© ternama. 

Pertama, adalah ketakutan, dimana hal ini beragam timbulnya ketika penulis enggan mempublikasikan karya karena takut disangka jelek atau memang karena tidak mau, dan 80% karena takut dikenal. Lho, kok mau jadi penulis takut terkenal? Ini fenomena yang aneh menurut saya, ada yang bilang karena takut tersaingi atau menyaingi mentornya, lho iki mumet maneh, tho.

Tentunya berdasarkan pengalaman dan riset yang saya lakukan, ada tiga hal ini yang perlu dipegang agar bisa dicap sebagai penulis. Pertama, jangan mudah termakan obsesi sendiri, atau istilahnya terlalu halu untuk mendapat pujian. Segala kegiatan yang dilakukan pasti mengandung risiko, makan saja mengandung risiko tergantung bisa meminimalisir atau membungkam risiko tersebut sepintar apa. 

Nah, untuk penulis sendiri biasanya risiko yang muncul adalah tidak lakunya karya, kurangnya apresiasi, gejolak untuk terkenal sampai akhirnya kurang mencintai diri sendiri dan karya. Jika Anda sebagai penulis tidak bisa menangkal itu, mending berhenti sejenak dan lakukan refleksi diri.

Kedua, jangan mudah baper. Karena hal ini akan berdampak pada semangat menulis yang sudah terlanjur menggebu yang pada akhirnya harus susut karena cemoohan atau kritik pedas yang dilancarkan kepada Anda yang mengklaim diri sebagai penulis. Tentunya hal ini perlu dikontrol dengan metode peningkatan kepercayaan diri dan mencintai karya sendiri. Bisa Anda lakukan beberapa kali Anda selesai menulis, dan jika gagal, maka lakukan lagi saja. Gitu aja kok repot.

Ketiga, adalah jangan mudah jumawa dan terbawa euforia. Penulis itu risiko kemenangannya sangat besar dan lancar, dan jika Anda terlalu larut dalam kebahagiaan dan tak mampu menyadari jerih payah, hal yang sering muncul dari melupakan hal tersebut adalah tidak mampu bangkit ketika jatuh. Nah, ini yang sering dilupakan oleh penulis pemula ketika menulis dan mendapat apresiasi tinggi, bahkan sampai dunia perfilman kemungkinan untuk rendah hati sangat kecil.

Maka dari itu, perlu untuk refleksi dan semangat belajar untuk penulis pemula yang sangat aktif di media saat ini. Dan opini saya ini bisa dibuat pegangan atau untuk pajangan kamar Anda. Hubungi saya ketika ingin konsultasi lebih lanjut, bolehlah ngopi bareng apalagi sama penulis cewek. Wuaduh!

No comments for "Jangan Menjadi Penulis Jika Masih Takut 3 Hal Ini"

close